yuliafitrimuchtarblog

A topnotch WordPress.com site

SUKSESI HUTAN MANGROVE

Leave a comment

SUKSESI  HUTAN MANGROVE

Pengertian Suksesi

Menutut Riberu Paskalis menjelaskan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat dengan mudah diamati dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh komunitas lain. Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju kesatu arah secara teratur disebut suksesi.

Suksesi terjadi akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homoestatis) yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dari berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruha. Dengan perkataan lain suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang.

Suksesi adalah suatu proses perubahan yang disebabkan oleh gangguan dalam komunitas. Gangguan tersebut dapat terjadi karena gangguan alam seperti letusan gunung berapi, tsunami, terjadinya tanah longsor, banjir atau juga karena perbuatan manusia misalnya kegiatan penambangan ,kebakaran hutan dan pandangkalan di dasar danau atau di muara sungai.

Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

  1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan
  2. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat disekitar komunitas yang terganggu.
  3. Kehadiran pemencar benih
  4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membantu penyebaran biji, spora dan benih serta curah hujan
  5. Jenis substrat baru yang terbentuk
  6. Sifat-sifat jenis tumbuhan yang ada disekitar tempat terjadinya suksesi.
  7. B.     Macam-macam Suksesi

Menurut Riberu Paskalis suksesi dibedakan menjadi dua macam :

  1. Suksesi Primer

Proses suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara menyeluruh (total), sehingga di tempat komunitas asal itu terbentuk habitat baru atau substrat baru. Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk komunitas asal yang tertinggal artinya  komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan sebelumnya. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami misalnya tanah longsor, banjir, tsunami dan letusan gunung berapi.

  1. Suksesi Sekunder

Proses suksesi sekunder terjadi jika suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu, gangguan yang terjadi tidak merusak komunitas secara total, sehingga substrat lama dan kehidupan masih ada yang tersisa. Substrat inilah yang menjadi tumbuhan pelopor untuk membentuk komunitas yang terganggu. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir ataupun ulah tangan manusia seperti pembukaan aeral hutan, pendangkalan didasar danau dan penambangan..

Hutan Mangrove

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah, salinitas tanahnya yang tinggi, serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.

Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).

Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

 

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha). Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.

Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan sosial yang penting dalam pembangunan. Hutan mangrove adalah hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh pada pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya disepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung.

Ekosistem hutan mangrove bersifat kompleks, dinamis namun labil. Bersifat dinamis karena hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang terus serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh alaminya. Dikatakan labil karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali seperti sediakala. Karena berada diperbatasan anatara darat dan laut, maka hutan mangrove merupakan ekosistem yang rumit dan mempunyai kaitan, baik dengan ekosistem darat maupun lepas pantai. Mangrove Indonesia mempunyai keragaman jenis yang tinggi yaitu memiliki 89 jenis tumbuhan yang terdiri 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit.

 Adapun fungsi dan manfaat hutan mangrove yaitu:

a. peranan ekologis:

1. Rumpun bakau memantulkan, meneruskan dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang melalui rumpun tersebut.

2. Mengikat sedimen yang terlarut dari sungai dan memperkecilerosi/abrasi pantai.

3. Pada kawasan hutan mangrove ini digalakkan komoditi ekspor udang, 287 kg/tahun.

4. Mangrove juga mampu menekan laju instrusi air laut ke arah daratan.

5. Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi secara garis besar dapat dibagi 2 kelompok yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, kemudian kelompok terrestrial seperti insekta, reptilia, amphibian, mamalia dan burung.

b. peranan social ekonomis mangrove

  1. Jenis Rhizophoraceae seperti R. apiculata, R. Mucronata, B. gymnorrhyza merupakan kayu bakar berkualitas baik karena menghasilkan panas yang tinggi dan awet dan bahan baku chip.
  2. Kayu mangrove cocok untuk tiang dan kaso dalam konsrtuksi rumah
  3. Tanin merupakan ekstrak kulit dari jenis R. apiculata, R. Mucronata, B. gymnorrhyza digunakan untuk menyamak kulit pada industry sepatu, tas dan lain-lain
  4. Daun nipah dianyam menjadi atap rumah
  5. Air rebusan R. apiculata digunkan sebagai astringent untuk menghentikan pendarahan.

Suksesi Hutan Manggrove

Suksesi ekologi adalah konsep yang mendasar dalam ekologi yang merujuk pada perubahan-perubahan yang berangkai dalam struktur dan komposisi suatu komunitas ekologi. Suksesi dapat terinisiasi oleh terbebtuknya formasi baru suatu habitat yang sebelumnya tidak dihuni oleh makhluk hidup ataupun oleh adanya gangguan terhadap komunitas hayati yang telah ada sebelumnya oleh kebakaran, badai maupun penebangan hutan.  Jadi suksesi ekologi adalah proses perubahan komponen spesies atau komunitas selama selang waktu tertentu. Menyusul adanya sebuah gangguan, suatu ekosistem biasanya akan berkembang dari tingkat organisasi sederhana hingga komunitas yang lebih kompleks (Sutomo,2009: 1-6).

Banyak metoda yang bisa dilakukan untuk pengembalian hutan yang telah mengalami suksesi, pada umumnya pada suksesi sekunder yaitu dengan cara tanpa tindakan, restorasi, rehabilitasi, dan pergantian suatu ekosistem yang terdegredasi dengan ekosistem yang lebih produktif.

            Adapun salah satu alternatif untuk mengatasi pemulihan kerusakan hutan mangrove akibat suksesi dengan cara tercepat yaitu dengan cara restorasi. Restorasi adalah pengembalian suatu ekosistem atau habitat kepada struktur komunitas, komponen alami, spesies, atau fungsi alami aslinya. Tujuannya untuk mengembalikan struktur, fungsi, keanekaragaman dan dinamika suatu ekosistem yang dituju. Restorasi suatu ekosistem yang terdegradasi yang telah melalui proses suksesi dilakukan untuk mempercepat proses tersebut hingga memiliki fungsi ekosistem yang sehat. Percepatan proses ini dilakukan dengan upaya yang bersifat manipulasi lingkungan maupun sumber daya.

            Langkah-langkah restorasi hutan yang telah tersuksesi adalah:

1. Mengumpulkan informasi mengenai sejarah kerusakan lahan yang akan direstorasi serta latar belakang sosial kultur ekonomi yang ada. Tujuannya untuk mengetahui penyebab kerusakan.

2.  Menyusun database mengenai keanekaragaman hayati di lokasi tersebut

3. Mengidentifikasi aspek ekologi kawasan. Untuk mendapatkan data mengenai komposisi dan struktur serta distribusi vegetasi yang ada pada lokasi dengan membuat plot sampling.

4. Seleksi jenis-jenis dan spesies kunci atau memilih jenis yang asli/endemik

5. Identifikasi kondisi tapak penanaman

6. Pendekatan regenerasi

7. Seleksi spesies dan koleksi biji

8. Praktek pembibitan

9. Reintriduksi dan penanaman

10. Pemeliharaan

11. Pemantauan

                                                                                                            

 

Author: yuliafitrimuchtar77

Wahai masalah besar, Aku punya Allah yang Maha Besar.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s