yuliafitrimuchtarblog

A topnotch WordPress.com site


Leave a comment

SAINS KURANG DISENANGI?? WHY??

Faktor yang menyebabkan sains kurang disenangi anak didik sangat banyak sekali. Setiap siswa dipenjuru dunia memiliki alasan tersendiri kenapa tidak menyukai sains. Dibawah ini dijabarkan faktor penyebabnya dan upaya guru untuk menjadikan sains disenangi anak didik.

Faktor yang menyebabkan sains kurang disenangi anak didik yaitu:

1)      Minat yang kurang terhadap sains karena sebelum belajar, sains sudah jadi momok yang menakutkan bagi siswa dengan hitungan dan penalarannya yang tinggi.

2)      Guru kadang tidak menguasai materi yang akan disampaikan, sehingga siswa pun sulit untuk memahami pelajaran.

3)      Proses belajar mengajarnya yang kaku karena tidak kreatif dalam pemilihan strategi, metode dan model pembelajaran yang tepat untuk menjelaskan pelajaran.

4)      Kurikulum yang sangat padat sehingga siswa selalu disibukkan dengan tugas yang banyak, sehingga orientasi yang ada hanya untuk mendapatkan nilai yang tinggi.

5)      Kita ketahui sains identik dengan praktikum, tetapi sarana dan prasarananya tidak mendukung. Sehingga praktikum ditiadakan, siswa menjadi suntuk dengan pelajaran yang hanya di kelas saja.

Upaya guru untuk menjadikan sains disenangi anak didik

1)      Guru harus memahami materi pelajaran sebelum mengajarkannya kepada siswa.

2)      Guru harus paham kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.

3)      Pemilihan pendekatan, metode, dan model pembelajaran yang tepat sehingga siswa menyenangi pelajaran.

4)      Guru harus memiliki 10 keterampilan dasar guru dan mengaplikasikannya dalam bidang sains

5)      Bagi pelajaran sains yang memerlukan praktikum, praktikum harus dilakukan walaupun sarana prasarana kurang mencukupi, guru harus bisa mengembangkan alat-alat praktikum sendiri yang sederhana sesuai dengan tujuan pembelajaran.


Leave a comment

MACAM-MACAM PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN

1. SCL (“Student-centred learning)

“Student-centred learning or student-centered learning is an approach to education focusing on the needs of the students, rather than those of others involved in the educational process, such as teachers and administrators” (Wikipedia, 2006). Lea, Stephenson, dan Troy (2003 dalam O’Neill &McMahon, 2005) mendefinisikan SCL secara lebih luas yaitu bahwa SCL mencakup ketergantungan terhadap belajar aktif, penekanan terhadap belajar secara mendalam, pemahaman, meningkatnya tanggungjawab di pihak siswa, meningkatnya perasaan otonomi pada pembelajar, saling ketergantungan antara guru dan siswa. SCL lebih merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang refleksif baik bagi pihak siswa maupun guru.Dalam pendekatan SCL, pembelajar memiliki tanggung jawab penuh atas kegiatan belajarnya, terutama dalam bentuk keterlibatan aktif dan partisipasi siswa. Hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya adalah setara, yang tercermin dalam bentuk kerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas belajar. Guru lebih berperan sebagai fasilitator yang mendorong perkembangan siswa, dan bukan merupakan satu-satunya sumber belajar. Keaktifan siswa telah dilibatkan sejak awal dalam bentuk disain belajar yang memperhitungkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar siswa yang telah didapatkan sebelumnya. Contoh pendekatan SCL

 2. Active Learning

Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan pengajar dalam proses pembelajaran tersebut, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki.

Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

1)      Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas,

2)      Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pembelajaran,

3)      Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi pelajaran,

4)      Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi,

5)      Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.

Contohnya kita bisa lihat pada salah satu teknik pembelajaran aktif yaitu Exam questions writing : Untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi pelajaran tidak hanya diperolehdengan memberikan ujian atau tes. Meminta setiap siswa untuk membuat soal ujianatau tes yang baik dapat meningkatkan kemampuan siswa mencerna materi pelajaranyang telah diberikan sebelumnya. Pengajar secara langsung bisa membahas dan memberikomentar atas beberapa soal yang dibuat oleh siswa di depan kelas dan/ataumemberikan umpan balik kemudian.

3. Constructivism

Pendekatan Constructivisme merupakan pendekatan yang menekankan pentingnya siswa membangaun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan berfokus pada pembelajaran secara mendalam dengan pengalaman yang relevan, materi pembelajaran terintegrasi, dan disusun sendiri oleh siswa.

Contohnya: Guru memberikan data mentah dan materi-materi yang interaktif, setelah itu mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon, sehingga siswa terdorong berpikir tingkat tinggi dan terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru dan siswa

4. Contextual Teaching and Learning

Merupakan suatu pendekatan yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara dan tenaga kerja. CTL menekankan pada berfikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin akademik, dan pengumpulan, penganalisisan, pensitesisan informasi dan data dari berbagai sumber titik pandang.

Contohnya: membantu para siswa dalam belajar bagaimana memonitor belajar mereka sendiri. CTL ini sesuai dengan ungkapan: Bawalah mereka dari dunia mereka ke dunia kita, kemudian hantarkan mereka dari dunia kita ke dunia mereka kembali.

5. Cooperative Learning

Pendekatan yang bercirikan pada struktur tugas, struktur tujuan dan penghargaan (reward). Dalam penerapan pembelajaran kooperatif ini dua atau lebih individu bekerjasama, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai suatu tujuan. Contohnya pada model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS), guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, guru meminta anak didik berpasangan untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Setelah itu guru meminta kepada pasangan untuk berbagi ide, informasi, pengetahuan tentang apa yang telah didiskusikannya.

6. Creative Learning

Pembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal yang artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru. Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan. Dirancang untuk mensimulasikan imajinasi. Kreatifitas adalah sebagai kemampuan (berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.

Contohnya: guru kreatif dalam variasi metode mengajar dan membuat alat peraga, siswa juga diajak dan diberi kesempatan untuk merancang/membuat sesuatu serta menuliskan ide atau gagasannya.

7. Inquiry dan Discovery

Kata kunci pendekatan inquiry adalah menemukan sendiri, yaitu pendekatan yang pembelajarannya mengarahkan anak didik untuk menemukan pengetahuan, ide, dan informasi melalui usaha sendiri dengan menggunakan langkah-langkah metode ilmiah. Sedangkan pendekatan discovery hampir sama dengan inquiry, tetapi anak menemukan sendiri dari materi yang telah diberikan kepada mereka sebelumnya.

Contoh: inquiry discovery dengan pembelajaran terbimbing  adalah sebagai berikut (1) guru menentukan tujuan yang akan dipelajari oleh siswa dan memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penernuan; (2) Menentukan lembar pengamatan data untuk siswa; (3) Menyiapkan alat dan bahan secara lengkap; (4) Menentukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individu atau secara berkelompok; (5) Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa.

8. Problem Solving

Merupakan pendekatan yang mengarahkan atau melatih anak didik untuk mampu memecahkan masalah dalam bidang ilmu atau bidang studi yang dipelajari.

Contohnya guru memberikan sebuah masalah yang akan diselesaikan, lalu siswa diminta untuk memahami masalah terlebih dahulu, setelah dipahami masalah itu dirumuskan, mengajukan beberapa alternative pemecahan atau solusi, terakhir siswa memilih solusi yang lebih tepat sehingga masalah dapat diselesaikan.

9. Problem Based Learning

Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

Contohnya: seorang guru meorientasikan anak didik kepada masalah, setelah itu mengorganisasikan anak didik untuk belajar, membimbing penyelidikan individual atau kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah tersebut.

10. Joyful Learning

Pendekatan joyful learning merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang mendukung pengembangan berpikir kreatif dan menciptaan suasana belajar yang menyenangkan.

Contohnya: pendekatan joyful leaning pada materi ekosistem, sebagai berikut:

1)   Kebermaknaan; Pemahaman akan meningkat bila informasi baru dengan gagasan dan pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa. Khususnya, istilah dan konsep sering sulit dipahami. Pemahaman tersebut perlu digali melalui pengalaman siswa itu sendiri.

2)   Penguatan; terdiri atas pengulangan oleh guru dan latihan oleh siswa. Pengulangan tersebut dan latihan dapat menanggulangi proses lupa. Dalam pendekatan joyful learning, penguatan merupakan yang harus diperhatikan.

3)   Umpan balik; kegiatan belajar akan efektif bila siswa menerima dengan cepat tentang hasil-hasil tugas belajar tersebut. Umpan balik sederhana, misalnya koreksi jawaban siswa atas pertanyaan guru selama pelajaran berlangsung, atau koreksi pekerjaan siswa.

11. Life Skills Based Learning

Pendekatan life skill adalah pendekatan yang memberikan bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan dan berguna bagi perkembangan kehidupan peserta didik.

Contohnya: Dalam mata pelajaran Sel, guru menjelaskan pengertian tentang sel, peserta didik diharapkan mampu memaknai kinerja sel yang banyak walaupun ukurannya sangat kecil sehingga peserta didik bisa lebih memaknai hidupnya dengan hal-hal yang baik untuk perkembangannya.

12. IESQ Based Learning

Pendekatan dalam pembelajaran yang menyeimbangkan 3 kecerdasan yaitu Intelektual (I), Emotional (E), dan Spiritual (S) untuk perkembangan peserta didik.

Contoh Dalam menjelaskan simbiosis dalam ekosistem, selain guru menjelaskan tentang materi simbiosis, hendaknya guru bisa memicu emosi dan spiritual peserta didik untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya. Pada simbiosis mutualisme contohnya, makhluk hidup tidak bisa hidup sendiri, sehingga peserta didik bisa menerapakan kerjasama dan saling menolong antar sesama.

13. Hard and Soft Skills Based Learning

Pendekatan yang menggabungkan antara tampilan, pengetahuan, fisik (Hard skills) dan keterampilan seseorang dengan orang lain/ termasuk dengan dirinya (Soft skills). Atribut soft skills meliputi, (1) nilai yang dianut, (2) motivasi, (3) perilaku, (4) kebiasaan, (5) karakter.

Contohnya: seorang peserta didik mendapatkan ilmu dari gurunya tentang pembentukan zigot. Nilai yang bisa diambil disana yaitu memaknai arti dari perjuangan banyak sperma yang telah berjuang untuk membuahi ovum tetapi hanya 1 sperma yang berhasil. Dari proses itu saja, kita yang telah menikmati hidup ini, hendaknya bersyukur karena kita adalah orang yang terpilih, jadi kenapa kadang kita meragukan kemampuan yang kita miliki? Hal itu bisa menjadi motivasi untuk selalu mengasah diri menjadi yang terbaik. Ketika ada motivasi, kita harus aplikasikan dalam prilaku. Seseorang yang sudah memiliki prilaku yang baik, dalam kehidupan akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu yang akan menjadi karakter


Leave a comment

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA, PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI

Perubahan Sosial Budaya

Dalam sistem sosial budaya, ada 4 komponen yang saling berinteraksi yaitu individu, interaksi soial, lingkungan dan kebudayaan. Kingsley Davis memberikan pengertian perubahan sosial yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat, sedangkan Selo Soemardjan menyatakan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai, sikap, pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Secara singkat, perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi pada struktur dan proses sosial (konfigurasi dan hubungan di antara unsur-unsur sosial), sedangkan perubahan kebudayaan terjadi pada struktur kebudayaan (nilai/idea, pola bertindak, dan artefak). Perubahan kebudayaan mencakup 3 proses utama yaitu Originasi (penemuan elemen-elemen baru dalam satu budaya), Difusi (peminjaman elemen-elemen budaya baru dari kebudayaan lain), Reinterpretasi (modifikasi elemen-elemen budaya yang ada untuk memenuhi tuntutan zaman).

Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik semacam kesimpulan bahwa perubahan sosial selalu diawali oleh perubahan kebudayaan. Tetapi tidak semua perubahan unsur kebudayaan diikuti oleh perubahan sosial, hanya perubahan-perubahan unsur kebudayaan yang fundamental saja yang diikuti oleh perubahan sosial. Misalnya perubahan undang-undang dasar.Apabila menggunakan pemikiran struktur kebudyaan, maka ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas daripada perubahan sosial.  Perubahan sosial terbatas pada perubahan sistem tindakan (sistem sosial), sedangkan perubahan kebudayaan meliputi semua perubahan pada aspek kebudayaan masyarakat, yang meliputi (1) sistem idea, (2) sistem sosial, dan (3) sistem artefak. Namun, apabila menggunakan pendekatan bahwa masyarakat dan kebudayaan merupakan dwi tunggal, sehingga masyarakat merupakan wadah dan kebudayaan merupakan isi, maka perubahan sosial lebih luas ruang lingkupnya daripada perubahan kebudayaan. Karena perubahan sosial akan meliputi semua perubahan yang terjadi pada masyarakat. Perubahan kebudayaan merupakan perubahan pada isi. Sehingga, perubahan kebudayaan merupakan bagian dari perubahan sosial.

Teori-teori perobahan sosial budaya antara lain: (1) Teori orientasi nilai sosial budaya, orientasi nilai lebih menekankan pandangan yang berorientasi ke masa depan, (2) teori pattern variable menyatakan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang menganut orientasi nilai yang mengutamakan penilaian berdasarkan achievement (keberhasilan) bukan status.(3) teori Hagen, factor-faktor yang bersifat motivasi yang mempengaruhi perubahan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.

Perubahan sosial dapat dipastikan terjadi dalam masyarakat, karena adanya ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Tidak ada masyarakat yang berhenti berkembang, setiap masyarakat pasti berubah, hanya ada yang cepat dan ada yang lambat
  2. Perubahan yang terjadi pada lembaga sosial tertentu akan diikuti perubahan pada lembaga lain
  3. Perubahan sosial yang cepat akan mengakibatkan disorganisasi sosial
  4. Disorganisasi sosial akan diikuti oleh reorganisasi melalui berbagai adaptasi dan akomodasi
  5. Perubahan tidak dapat dibatasi hanya pada bidang kebendaan atau spiritual saja, keduanya akan kait-mengkait

Tipologi perubahan sosial:

  1. Perubahan siklus

Perubahan-perubahan berpola siklus diterangkan antara lain oleh Arnold Toynbe, Oswald Spengler, dan Vilfredo Pareto, bahwa masyarakat berkembang laksana suatu roda, kadangkala naik ke atas, kadang kala turun ke bawah. Spengler dalam bukunya The Decline of The West menyatakan bahwa kebudayaan tumbuh, berkembang dan pudar laksana perjalanan gelombang yang muncul mendadak, berkembang, kemudian lenyap

  1. Perubahan linier

Perubahan berpola linier dianut oleh Comte, Spencer, Durkheim, Weber, Parsons, dst.,  bahwa kemajuan progresif masyarakat mengikuti suatu jalan yang linier, dari suatu kondisi ke kondisi lain, misalnya dari tradisional menjadi modern, dari agraris ke industria, atau sebagaimana yang dikemukakan oleh Alvin Tofler bahwa masyarakat akan bergerak dari masyarakat gelombang I yang agraris, menuju ke gelombang II yang industrial, dan akhirnya gelombang III masyarakat informasi, dan sebagainya.

  1. Evolusi dan Revolusi

Perubahan sosial budaya ada yang bersifat evolusioner dan revolusioner. Perubahan yang bersifat evolusioner memakan waktu ratusan atau ribuan tahun, suatu proses perubahan yang berkelanjutan dari bentuk yang sederhana ke kompleks. Perubahan ini mencerminkan perubahan sosial, politik, ekonomi yang bersifat gradual dan relatif damai. Sedangkan perubahan yang bersifat revolusioner adalah perubahan yang berlangsung dalam waktu yang relatif pendek, yang bersifat tiba-tiba, radikal, dan menyeluruh. Perubahan ini mencerminkan perubahan sosial, politik, ekonomi yang bersifat cepat, fundamental, dan relatif menggegerkan.

Apabila dibedakan menurut asal faktor, maka faktor-faktor penyebab perubahan dapat dibedakan antara faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor eksternal, atau faktor-faktor yang beasal dari luar masyarakat, dapat berupa: (1) pengaruh kebudayaan masyarakat lain, yang meliputi proses-proses difusi (penyebaran unsur kebudayaan), akulturasi (kontak kebudayaan), dan asimilasi (perkawinan budaya), (2) perang dengan negara atau masyarakat lain, dan (3) perubahan lingkungan alam, misalnya disebabkan oleh bencana.

Faktor-faktor internal, merupakan faktor-faktor perubahan yang berasal dari dalam masyarakat, misalnya (1) perubahan aspek demografi (bertambah dan berkurangnya penduduk), (2) konflik antar-kelompok dalam masyarakat, (3) terjadinya gerakan sosial dan/atau pemberontakan (revolusi), dan (4) penemuan-penemuan baru, yang meliputi (a) discovery, atau penemuan  ide/alat/hal baru yang belum pernah ditemukan sebelumny (b) invention, penyempurnaan penemuan-penemuan pada discovery oleh individu atau serangkaian individu, dan (c) inovation, yaitu diterapkannya ide-ide baru atau alat-alat baru menggantikan atau melengkapi ide-ide atau alat-alat yang telah ada.

Faktor-faktor penyebab perubahan menurut jenisnya dapat dibedakan antara faktor-faktor yang bersifat material dan yang bersifat immaterial. Faktor-faktor yang bersifat material, meliputi: (1)  perubahan lingkungan alam, (2) perubahan kondisi fisik-biologis, dan (3)  alat-alat dan teknologi baru, khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sedangkan faktor-faktor yang bersifat nonmaterial, meliputi: (1) ilmu pengetahuan, dan (2) ide-ide atau pemikiran baru, ideologi, dan nilai-nilai lain yang hidup dalam masyarakat.

Di samping dikenal adanya faktor penyebab perubahan, berikut diidentifikasi tentang faktor-faktor pendorong dan penghambat perubahan.

Faktor pendorong perubahan:

  1. Kontak/komunikasi dengan kebudayaan lain
  2. Pendidikan yang maju
  3. Need for Achievement (n-Ach)
  4. Sikap menghargai orang lain dan kebudayaannya
  5. Toleransi
  6. Struktur sosial (stratifikasi) terbuka
  7. Penduduk yang heterogen
  8. Ketidakpuasan terhadap keadaan
  9. Orientasi ke masa depan

Faktor penghambat perubahan

  1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
  2. Perkembangan IPTEK yang terhambat
  3. Sikap masyarakat yang tradisional
  4. Vested interested
  5. Ketakutan akan terjadi kegoyahan dalam sistem sosial apabila terjadi perubahan
  6. Prasangka terhadap hal baru
  7. Hambatan ideologis (nilai sosial)
  8. Hambatan adat dan tradisi

Beberapa dampak negatif dari perubahan sosial budaya adalah:

  1. Westernisasi (meniru gaya hidup orang barat tanpa reserve).
  2. Sekularisme (pada tingkatnya yang moderat, sekularisme merupakan pandangan hidup yang memisahkan kehidupan agama dengan kehidupan dunia, pada tingkatnya yang lebih ekstrim, sekularisme merupakan pandangan hidup yang menekankan pada pentingnya kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, bahkan sampai pada faham yang tidak mengakui adanya Tuhan)
  3. Konsumerisme (pandangan hidup bahwa lebih baik membeli produk barang dan jasa daripada membuatnya sendiri)
  4. Konsumtivisme (mengkonsumsi barang dan jasa yang sebenarnya bukan merupakan keperluannya)
  5. Hedonisme (cara hidup bermewah-mewah untuk mengejar prestise atau gengsi tertentu)
  6. Liberalisme (faham kebebasan berfikir, misalnya Islam Liberal)
  7. Feminisme (gerakan sosial yang berupaya menempatkan perempuan dalam urusan-urusan publik).
  8. Separatisme/pemberontakan/pergolakan daerah
  9. Kesenjangan sosial dan ekonomi, yang terjadi karena ketidakadilan dalam proses pembangunan, misalnya karena menekankan atau memprioritaskan daerah atau golongan sosial tertentu
  10. Munculnya berbagai tindak kejahatan, baik yang berupa kejahatan kerah putih (white collar crime) maupun yang berupa kejahatan kerah biru (blue collar crime)
  11. Munculnya berbagai perilaku menyimpang, seperti kenakalan remaja, dan sebagainya yang disebabkan oleh adanya keinginan untuk menyesuaikan dengan taraf hidup, tetapi tidak didukung oleh kemampuan dan ketrampilan yang memadai (demonstration effect)

Pembangunan dan Modernisasi

Dua konsep perubahan sosial budaya yang mendominasi ilmu-ilmu sosial, beberapa dekade setelah perang dunia II adalah kosep modernisasi dan konsep pembangunan. Pembangunan merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terncana melalui berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Bangsa Indonesia seperti termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah mencantumkan tujuan pembangunan nasionalnya. Kesejahteraan masyarakat adalah suatu keadaan yang selalu menjadi cita-cita seluruh bangsa di dunia ini. Berbagai teori tentang pembangunan telah banyak dikeluarkan oleh ahli-ahli sosial barat, salah satunya yang juga dianut oleh Bangsa Indonesia dalam program pembangunannya adalah teori modernisasi. Modernisasi merupakan tanggapan ilmuan sosial barat terhadap tantangan yang dihadapi oleh negara dunia kedua setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Ada dua paradigma  dalam pembangunan  yaitu paradigma modernisasi dan paradigma ketergantungan.

Pokok paradigma modernisasi adalah:

  1. Pembangunan adalah suatu proses yang spontan, tidak dapat dibalikkan dan menjadi sifat dari masing-masing negara
  2. Pembangunan secara tersirat menuju ke differensiasi struktural dan spesialisasi fungsional
  3. Proses pembangunan dapat dibagi menjadi tahap-tahapan yang berbeda, yang menunjukkan tingkat pembangunan yang dicapai oleh setiap masyarakat
  4. Pembangunan dapat dirangsang oleh persaingan ekstern atau ancaman militer dan intern serta modernisasi sektor-sektor tradisional.

Pokok paradigma ketergantungan adalah:

  1. Rintangan-rintangan yang paling penting bagi pembangunan bukan tidak adanya modal atau kecekatan kewiraswataan. Hal-hal ini bersifat ekstern bagi perekonomian yang kurang berkembang
  2. Proses pembangunan dianalisa dalam arti hubungan antara kawasan-kawasan, yaitu pusat dan pinggiran
  3. Kenyataan bahwa kawasan pinggiran itu kehilangan hak atas surplusnya, pembangunan di pusat secara tersirat. Berarti keterbelakangan di derah pinggiran.

Kedua paradigma ini saling berhubungan, contohnya keterkaitan negara maju dengan negara berkembang. Keharusan pengembangan pendidikan itu akan membuka pintu untuk menuju ke dunia modern, karena hanya dengan pendidikan dapat dilakukan perubahan sosial budaya, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, penyesuaian nilai-nilai dan sikap-sikap yang mendukung pembangunan dan penguasaan berbagai keterampilan dalam menggunakan teknologi maju untuk mempercepat proses pembangunan.

Modernisasi merupakan proses menjadi modern. Istilah modern berasal dari kata modo yang artinya yang kini. Sehingga, modernisasi dapat diartikan sebagai cara hidup yang sesuai dengan situasi yang kini ada, atau konteks masa sekarang.  Menurut Samuel Huntington proses modernisasi mengandung beberapa ciri pokok sebagai berikut:

  1. Merupakan proses bertahap, dari tatanan hidup yang primitif-sederhana menuju kepada tatanan yang lebih maju dan kompleks
  2. Merupakan proses homogenisasi. Modernisasi membentuk struktur dan kecenderungan yang serupa pada banyak masyarakat. Penyebab utama proses homogenisasi ini adalah perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Contoh: fenomena coca colonization, Mc world serta californiazation.
  3. Terwujud dalam bentuk lahirnya sebagai: Amerikanisasi dan Eropanisasi
  4. Merupakan proses yang tidak bergerak mundur, tidak dapat dihindrkan dan tidak dapat dihentikan
  5. Merupakan proses progresif (ke arah kemajuan), meskipun tidak dapat dihindari adanya dampak (samping).
  6. Merupakan proses evolusioner, bukan revolusioner dan radikal; hanya waktu dan sejarah yang dapat mencatat seluruh proses, hasil maupun akibat-akibat serta dampaknya

Alex Inkeles dan David Smith mengemukakan ciri-ciri individu modern, sebagai berikut:

  1. Memiliki alam pikiran (state of mind) yang terbuka terhadap pengalaman baru
  2. Memiliki kesanggupan membentuk dan menghargai opini
  3. Berorientasi ke depan
  4. Melakukan perencanaan
  5. Percaya terhadap ilmu pengetahuan
  6. Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu dapat diperhitungkan
  7. Menghargai orang lain karena prestasinya
  8. Memiliki perhatian terhadap persoalan politik masyarakat
  9. Mengejar fakta dan informasi

Talcott Parson menyebut variable-variabel yang berubah dalam perubahan itu, yaitu

  1. “Affektivity” ke “Affective Neutrality”. Dari hubungan-hubungan dan tindakan yang didasarkan pada perasaan, ke hubungan-hubungan dan tindakan yang didasarkan pada pertimbangan rasional atau kepentingan tertentu. Modernisasi dan industrialisasi membuat warga masyarakat mampu menunda kesenangan, yang kalau dalam aktivitas ekonomi akan muncul sebagai investasi.
  2. “Partikularisme” ke “Universalisme”. Dari interaksi dan komunikasi yang terbatas pada kelompok-kelompok, golongan-golongan, atau aliran-alirann, berubah ke lingkup yang lebih luas (universal).
  3. “Orientasi Kolektif” ke “Orientasi Diri”. Dari orientasi hidup untuk kepentingan kelompok ke kepentingan diri.
  4. “Askriptif” ke “Achievement”. Dari penghargaan kepada faktor-faktor bawaan lahir, berubah kepada penghargaan-penghargaan berdasarkan prestasi.
  5. “Functionally diffused” ke “Functionally specified”. Dari cara kerja yang bersifat umum dan serba meliputi, berubah menjadi berdasarakan kekhususan atau spesialiasi yang dibatasi oleh konteks ruang dan waktu. Bandingkan hubungan antara orangtua – anak dengan guru – murid. Orangtua – anak tidak terbatas oleh ruang dan waktu, sedangkan guru – murid dibatasi oleh ruang dan waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Leave a comment

KOMUNIKASI ANTAR SEL

KOMUNIKASI ANTAR SEL

A.    Pendahuluan

Komunikasi antar sel berperan penting untuk pengaturan dan pengendalian kegiatan sel, jaringan, organ tubuh, dan untuk mempertahankan homeostasis. Dalam tubuh manusia terdapat dua jenis komunikasi antar sel, yaitu: wired system (komunikasi melalui saraf atau listrik) dan non-wired system (komunikasi kimiawi). Sedangkan komunikasi intra sel adalah komunikasi yang terjadi di dalam sel. Komunikasi intra sel merupakan proses pengubahan sinyal di dalam sel itu sendiri. Komunikasi antar sel biasnya melewati enam tahap: 1)sintesis, 2) pelepasan hormon, 3) transpor ke organ target, 4) pengenalan petunjuk (sering oleh reseptor protein yang spesifik), 5) penerjemahan,6)respons.

Informasi yang dihantarkan sepanjang sel saraf berbentuk potensial aksi. Penghantaran informasi dari sel saraf ke sel target berlangsung melalui sinaps, yang dikenal sebagai transmisi sinaps. Sedangkan komunikasi kimiawi berlangsung lebih lambat namun efeknya lebih lama. Komunikasi saraf dan komunikasi kimiawi dapat terjadi secara tumpang tindih. Beberapa zat kimia seperti neurotransmitter, hormon, dan neurohormon tidak dapat menembus sel. Informasi yang akan dihantarkan harus dirubah dulu oleh protein membran sel ke sinyal kimia di dalam sel.

Komunikasi sel berperan penting dalam menyelenggarakan homeostasis karena tubuh harus senantiasa memantau adanya perubahan-perubahan nilai berbagai parameter, lalu mengkoordinasikan respons yang sesuai sehingga perubahan yang terjadi dapat diredam. Untuk itu sel-sel tubuh harus mampu berkomunikasi satu dengan lainnya. Komunikasi antar sel merupakan media yang menopang pengendalian fungsi sel atau organ tubuh. Pengendalian yang paling sederhana terjadi secara lokal (intrinsik) yaitu dengan komunikasi antar sel yang berdekatan. Pengendalian jarak jauh (ekstrinsik) lebih kompleks dan dimungkinkan melalui refleks yang dapat melibatkan sisitem saraf (lengkung refleks) maupun sistem endokrin (pengaturan umpan balik).

B.     Penyampaian Molekul Sinyal

Dalam penyampaian molekul sinyal terdapat empat tipe, yaitu:

  1. Endokrin: sel target jauh, mengggunakan mediator hormon. Hormon dibawa melalui pembuluh darah. Contohnya komunikasi hipofisis ke gonad, harus menggunakan substansi tertentu untuk menghantarkan sinyal.
  2. Parakrin: mediator lokal. Mempengaruhi sel target tetangga, dirusak oleh suatu enzim ekstraselular atau diimobilisasi oleh Ekstra Cellular Matriks. Contohnya Sel folikel menghasilkan estrogen yang hanya diketahui oleh sel folikel saja.
  3. Autokrin: Sel responsif terhadap substansi yang dihasilkan oleh sel itu sendiri, contohnya komunikasi yang terjadi ketika pertukaran ion pada sel dalam jaringan.
  4. Sinaptik: Penyampaian sinyal dapat dilakukan dengan cara protein dari suatu sel berikatan langsung dengan protein lain pada sel lain.

C.    Metode Komunikasi Antar Sel

Di dalam tubuh terdapat tiga metode komunikasi antar sel, yaitu:

1)         Komunikasi langsung, adalah komunikasi antar sel yang sangat berdekatan. Komunikasi ini terjadi dengan mentransfer sinyal listrik (ion-ion) atau sinyal kimia melalui hubungan yang sangat erat antara sel satu dengan lainnya. Gap junction merupakan protein saluran khusus yang dibentuk oleh protein connexin. Gap junction memungkinkan terjadinya aliran ion-ion (sinyal listrik) dan molekul-molekul kecil (sinyal kimia), seperti asam amino, ATP, cAMP dalam sitoplasma kedua sel yang berhubungan. Contohnya pertukaran ion dan garam antar sel dalam 1 jaringan.

2)         Komunikasi lokal, adalah komunikasi yang terjadi melalui zat kimia yang dilepaskan ke cairan ekstrasel (interstitial) untuk berkomunikasi dengan sel lain yang berdekatan (sinyal parakrin) atau sel itu sendiri (sinyal autokrin). Contohnya Endoprin dikeluarkan oleh sel-sel otak, untuk merasakan sensasi puas, hanya dirasakan oleh otak saja.

3)         Komunikasi jarak jauh: adalah komunikasi antar sel yang mempunyai jarak cukup jauh. Komunikasi ini berlangsung melalui sinyal listrik yang dihantarkan sel saraf dan atau dengan sinyal kimia (hormon atau neurohormon) yang dialirkan melalui darah. Contohnya komunikasi yang terjadi antara hipofisa ke sel gonad.

D.    Transduksi Sinyal

Transduksi sinyal mencakup pengubahan sinyal dari satu bentuk ke bentuk lain dalam sel. Akhirnya, respon terjadi sebagai hasil dari sinyal awal. Sinyal-sinyal kimia dapat berupa protein, asam amino, peptida, nukleotida, steroid, dan gas. Sebagian besar sinyal bersifat hidrofilik  sehingga tidak dapat melewati membran (contohnya protein, asam amino, dan peptida). Beberapa sinyal bersifat hidrofobik dan mampu melalui membran untuk memulai respon (contohnya hormon steroid).  Sinyal-sinyal tersebut diproduksi oleh signal cell dan dideteksi oleh protein reseptor pada sel target.

Transduksi sinyal meliputi aktifitas sebagai berikut:

1)      Pengenalan berbagai sinyal dari luar terhadap reseptor spesifik yang terdapat pada permukaan membran sel.

2)      Penghantaran sinyal melalui membran sel ke dalam sitoplasma.

3)      Penghantaran sinyal kepada molekul efektor spesifik pada bagian membran sel atau efektor spesifik dalam sitoplasma. Hantaran sinyal ini kemudian akan menimbulkan respon spesifik terhadap sinyal tersebut. Respon spesifik yang timbul tergantung pada jenis sinyal yang diterima. Respon dapat berupa peningkatan atau penurunan aktifitas enzim-enzim metabolik, rekonfigurasi sitoskeleton, perubahan permeabilitas membran sel, aktifasi sintesa DNA, perubahan ekspresi genetik atupun program apoptosis.

4)      Terputusnya rangkaian sinyal. Terjadi apabila rangsangan dari luar mulai berkurang atau terputus. Terputusnya sinyal juga terjadi apabila terdapat kerusakan atau tidak aktifnya sebagian atau seluruh molekul penghantar sinyal. Informasi yang terjadi akan melewati jalur rangsang (signal transduction pathway) yang terdiri dari berbagai protein berbeda atau molekul tertentu seperti berbagai ion dan kanalnya, berbagai faktor transkripsi, ataupun berbagai tipe sububit regulator. Setiap protein yang terlibat pada jalur ini mampu menghambat atau mengaktifasi protein yang berada dibawah pengaruhnya (down stream). Protein utama yang terlibat dalam jalur rangsang pada umumnya adalah kinase dan posphatase, yang beberapa diantaranya merupakan protein yang terdapat/larut dalam  sitoplasma. Kedua protein ini mampu melepaskan atau menerima grup posphat dari protein lain sehingga proses penghantaran atau penghentian sinyal dapat berlangsung.

Secara singkat langkah-langkah transduksi sinyal adalah:

1)      Sintesis molekul sinyal oleh sel yang memberi sinyal.

2)      Pelepasan molekul sinyal oleh sel yang memberi sinyal.

3)      Transpor sinyal oleh sel target.

4)      Pengikatan sinyal oleh reseptor spesifik yang menyebabkan aktivasi reseptor tersebut.

5)      Inisiasi satu atau lebih jalur transduksi sinyal intrasel.

6)      Perubahan spesifik fungsi, metabolisme, atau perkembangan sel.

7)      Pembuangan sinyal yang mengakhiri respon sel.

Disamping reseptor, terdapat pula berbagai kanal ion yang ikut berperan pada transduksi sinyal. Aktifitas kanal ion (khususnya ion-Ca) ataupun reseptor kalsium seperti calcium sensing receptor (CaSR) yang termasuk dalam kelompok C-family of G-protein coupled receptor dapat mempengaruhi keseimbangan kalsium dengan merubah konsentrasi ion sitosolik. Ion-Ca dalam sitoplasma akan bekerja sebagai second messenger dan dapat memicu timbulnya tranduksi sinyal yang berkelanjutan.

Pengubahan sinyal di dalam sel dapat terjadi sebagai berikut:

1)         Sinyal molekul ekstrasel berikatan dan mengaktifkan protein atau glikoprotein membran sel. Molekul protein yang diikat reseptor akan mengaktifkan: a) protein kinase, b) enzim penguat yang menggiatkan second messengers

2)         Second messengers, berperan:

a)      Mengubah kegiatan enzim, khususnya protein kinase

b)      Meningkatkan ion kalsium intrasel

c)      Menggiatkan kanal ion tertentu

E.     Reseptor Pada Membran Sel

Reseptor yang terdapat pada membran sel meliputi:

1)            G-protein (GTP-binding protein)-coupled receptors, merupakansuatu reseptor pada sel membran yangmempunyai tujuh helix transmembran. Penyaluransinyal yang timbul setelah G-protein coupled receptors berikatan dengan ligan, baru mungkinterjadi bila G-protein ikut berperan aktif untukmempengaruhi efektor yang berada dibawahpengaruhnya.

2)            Reseptor tirosin-kinase (RTK). Reseptor yang terdapat pada membran sel, terkadang bukan hanya suatu protein yang bekerja sebagai reseptor saja, namun juga merupakan suatu enzim yang mampu menambah grup posphat kepada residu tirosin spesifik dari protein itu sendiri. Terdapat dua macam tirosin kinase (TK) yakni: pertama, RTK yang merupakan protein transmembran yang memiliki domain diluar membrane sel yang mampu berikatan dengan ligan serta domain didalam membrane sel yang merupakan suatu katalitik kinase. Jenis kedua, merupakan non-RTK yang tidak memiliki protein transmembran serta terdapat dalam sitoplasma, inti dan bagian dalam dari membran sel. Pada G-proteincoupled receptors terdapat tujuh helix transmembran, sedangkan reseptor tirosin kinase hanya mempunyai satu segmen transmembran meskipun reseptor tipe ini dapat berupa monomer, dimmer ataupun tetramer.

3)            Reseptor kinase serin, berperan pada aktivitas kerja dari aktivin, TGF-beta, mulerianinhibiting substance (MIS), dan bone morphegenic protein (BMP). Sebagai efektor dari reseptor kinase serin adalah kinase serin sendiri. Keluarga dari reseptor ini meneruskan signal melalui suatu protein yang disebut sebagai smads. Protein ini dapat berperan ganda, baik berperan sebagai penerus sinyal (transducer) maupun sebagai faktor transkripsi.

4)            Integrin. Hubungan antara sel dengan substrat dimediasi dengan adanya integrin yang merupakan suatu protein transmembran yang mempunyai tempat ikatan dengan berbagai material ekstra sel seperti fibronektin, kolagen ataupun proteoglikan. Pada proses inflamsi, makrofag maupun fibroblast akan mensintesa fibronektin yang merupakan matriks protein yang besar. Fibronektin mempunyai fungsi sebagai chemotractant dan fungsi mitogenik untuk fibroblast. Untuk menjalankan fungsi tersebut perlu adanya ikatan fibronektin dengan reseptor integrin pada sel mononuklear maupun fibroblast.

Setiap reseptor pada membrane sel memiliki protein efektor dan jalur sinyal tertentu. Efektor berperan dalam amplifikasi (peningkatan) suatu signal yang timbul akibat adanya ikatan suatu ligan dengan reseptor spesifik pada membran sel.


Leave a comment

SUKSESI HUTAN MANGROVE

SUKSESI  HUTAN MANGROVE

Pengertian Suksesi

Menutut Riberu Paskalis menjelaskan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat dengan mudah diamati dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh komunitas lain. Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju kesatu arah secara teratur disebut suksesi.

Suksesi terjadi akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homoestatis) yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dari berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruha. Dengan perkataan lain suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang.

Suksesi adalah suatu proses perubahan yang disebabkan oleh gangguan dalam komunitas. Gangguan tersebut dapat terjadi karena gangguan alam seperti letusan gunung berapi, tsunami, terjadinya tanah longsor, banjir atau juga karena perbuatan manusia misalnya kegiatan penambangan ,kebakaran hutan dan pandangkalan di dasar danau atau di muara sungai.

Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

  1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan
  2. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat disekitar komunitas yang terganggu.
  3. Kehadiran pemencar benih
  4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membantu penyebaran biji, spora dan benih serta curah hujan
  5. Jenis substrat baru yang terbentuk
  6. Sifat-sifat jenis tumbuhan yang ada disekitar tempat terjadinya suksesi.
  7. B.     Macam-macam Suksesi

Menurut Riberu Paskalis suksesi dibedakan menjadi dua macam :

  1. Suksesi Primer

Proses suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara menyeluruh (total), sehingga di tempat komunitas asal itu terbentuk habitat baru atau substrat baru. Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk komunitas asal yang tertinggal artinya  komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan sebelumnya. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami misalnya tanah longsor, banjir, tsunami dan letusan gunung berapi.

  1. Suksesi Sekunder

Proses suksesi sekunder terjadi jika suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu, gangguan yang terjadi tidak merusak komunitas secara total, sehingga substrat lama dan kehidupan masih ada yang tersisa. Substrat inilah yang menjadi tumbuhan pelopor untuk membentuk komunitas yang terganggu. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir ataupun ulah tangan manusia seperti pembukaan aeral hutan, pendangkalan didasar danau dan penambangan..

Hutan Mangrove

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah, salinitas tanahnya yang tinggi, serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.

Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).

Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

 

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha). Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.

Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan sosial yang penting dalam pembangunan. Hutan mangrove adalah hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh pada pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya disepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung.

Ekosistem hutan mangrove bersifat kompleks, dinamis namun labil. Bersifat dinamis karena hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang terus serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh alaminya. Dikatakan labil karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali seperti sediakala. Karena berada diperbatasan anatara darat dan laut, maka hutan mangrove merupakan ekosistem yang rumit dan mempunyai kaitan, baik dengan ekosistem darat maupun lepas pantai. Mangrove Indonesia mempunyai keragaman jenis yang tinggi yaitu memiliki 89 jenis tumbuhan yang terdiri 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit.

 Adapun fungsi dan manfaat hutan mangrove yaitu:

a. peranan ekologis:

1. Rumpun bakau memantulkan, meneruskan dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang melalui rumpun tersebut.

2. Mengikat sedimen yang terlarut dari sungai dan memperkecilerosi/abrasi pantai.

3. Pada kawasan hutan mangrove ini digalakkan komoditi ekspor udang, 287 kg/tahun.

4. Mangrove juga mampu menekan laju instrusi air laut ke arah daratan.

5. Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi secara garis besar dapat dibagi 2 kelompok yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, kemudian kelompok terrestrial seperti insekta, reptilia, amphibian, mamalia dan burung.

b. peranan social ekonomis mangrove

  1. Jenis Rhizophoraceae seperti R. apiculata, R. Mucronata, B. gymnorrhyza merupakan kayu bakar berkualitas baik karena menghasilkan panas yang tinggi dan awet dan bahan baku chip.
  2. Kayu mangrove cocok untuk tiang dan kaso dalam konsrtuksi rumah
  3. Tanin merupakan ekstrak kulit dari jenis R. apiculata, R. Mucronata, B. gymnorrhyza digunakan untuk menyamak kulit pada industry sepatu, tas dan lain-lain
  4. Daun nipah dianyam menjadi atap rumah
  5. Air rebusan R. apiculata digunkan sebagai astringent untuk menghentikan pendarahan.

Suksesi Hutan Manggrove

Suksesi ekologi adalah konsep yang mendasar dalam ekologi yang merujuk pada perubahan-perubahan yang berangkai dalam struktur dan komposisi suatu komunitas ekologi. Suksesi dapat terinisiasi oleh terbebtuknya formasi baru suatu habitat yang sebelumnya tidak dihuni oleh makhluk hidup ataupun oleh adanya gangguan terhadap komunitas hayati yang telah ada sebelumnya oleh kebakaran, badai maupun penebangan hutan.  Jadi suksesi ekologi adalah proses perubahan komponen spesies atau komunitas selama selang waktu tertentu. Menyusul adanya sebuah gangguan, suatu ekosistem biasanya akan berkembang dari tingkat organisasi sederhana hingga komunitas yang lebih kompleks (Sutomo,2009: 1-6).

Banyak metoda yang bisa dilakukan untuk pengembalian hutan yang telah mengalami suksesi, pada umumnya pada suksesi sekunder yaitu dengan cara tanpa tindakan, restorasi, rehabilitasi, dan pergantian suatu ekosistem yang terdegredasi dengan ekosistem yang lebih produktif.

            Adapun salah satu alternatif untuk mengatasi pemulihan kerusakan hutan mangrove akibat suksesi dengan cara tercepat yaitu dengan cara restorasi. Restorasi adalah pengembalian suatu ekosistem atau habitat kepada struktur komunitas, komponen alami, spesies, atau fungsi alami aslinya. Tujuannya untuk mengembalikan struktur, fungsi, keanekaragaman dan dinamika suatu ekosistem yang dituju. Restorasi suatu ekosistem yang terdegradasi yang telah melalui proses suksesi dilakukan untuk mempercepat proses tersebut hingga memiliki fungsi ekosistem yang sehat. Percepatan proses ini dilakukan dengan upaya yang bersifat manipulasi lingkungan maupun sumber daya.

            Langkah-langkah restorasi hutan yang telah tersuksesi adalah:

1. Mengumpulkan informasi mengenai sejarah kerusakan lahan yang akan direstorasi serta latar belakang sosial kultur ekonomi yang ada. Tujuannya untuk mengetahui penyebab kerusakan.

2.  Menyusun database mengenai keanekaragaman hayati di lokasi tersebut

3. Mengidentifikasi aspek ekologi kawasan. Untuk mendapatkan data mengenai komposisi dan struktur serta distribusi vegetasi yang ada pada lokasi dengan membuat plot sampling.

4. Seleksi jenis-jenis dan spesies kunci atau memilih jenis yang asli/endemik

5. Identifikasi kondisi tapak penanaman

6. Pendekatan regenerasi

7. Seleksi spesies dan koleksi biji

8. Praktek pembibitan

9. Reintriduksi dan penanaman

10. Pemeliharaan

11. Pemantauan

                                                                                                            

 


Leave a comment

Mikroba Yang Hidup Di Lingkungan Ekstrim

Mulai dari bakteri yang mampu bertahan hidup dalam batu hingga mikroba yang mampu menahan panas, dingin dan radiasi luar biasa, kehidupan bisa memiliki bentuk ekstrim.

Makhluk-makhluk ini seolah mengatakan ia tak hanya mampu hidup di Bumi juga di di bagian lain di alam semesta. Berikut beberapa contoh makhluk mengangumkan yang disebut Extremophile.

1. Dunaliela Algae

Organisme ini ditemukan pada 2010 di sebuah gua di gurun Atacama, Chile. Organisme ini mampu bertahan hidup dalam kondisi air yang sangat sedikit. Meski hidup di bagian terkering Bumi, mikroba ini tumbuh di atas jaring laba-laba untuk mengkapitalisasi embun.

2. Hyperthermophiles

Spesies ini merupakan spesies yang mampu bertahan hidup di lingkungan yang memiliki panas ekstrim. GenusAquifex bakteri ini bisa ditemukan di sumber air panas di YellowstoneNational Park yang memiliki suhu 96 derajat Celsius.

3. Thermococcus

Mikroba ini mampu bertahan hidup dengan energi yang sangat sedikit. Bahkan, hingga kini, reaksi kimia yang digunakan mikroba ini dianggap tak bisa digunakan mempertahankan kehidupan.

Organisme ini ditemukan di dekat ventilasi hydrothermal laut dalam tempat air super panas keluar dari kerak Bumi dekat Papua Nugini. Menambahkan penggunaan energi yang sangat hemat pada mikroba ini, mikroba ini mampu bertahan pada suhu ekstrim yang tak bisa ditahan makhluk lain.

4. Halophilic

Mikroorganisme tahan garam ini mampu menahan konsentrasi garam yang bisa mengeringkan kebanyakan kehidupan. Misalnya, bakteri Halobacterium Halobium. Bakteri ini mampu hidup di lingkungan yang memiliki kadar garam 10 kali air laut.

5. Psychrophiles

Mikroba ini ditemukan di es, gletser, dan air laut dalam di kutub. Mikroba ini mampu menahan suhu dingin serendah minus 15 derajat Celsius. Fungi dan algae ini sebagian besar berisi enzim yang beradaptasi pada suhu rendah. Mikroba ini ditemukan di laut Antartika dan Arktik dan di bawah lepisa es Siberia.

6. Deinococcus Radiodurans

Spesies ekstrim ini membuktikan mantel mereka mampu menahan jumlah radiasi yang intens. Bakteri inibisa bertahan dari 15 ribu dosis abu-abu radiasi. Seperti diketahui, dosis 10 abu-abu radiasi bisa membunuh manusia.

Nyatanya, spesies ini juga bisa bertahan hidup di kondisi ekstrim lainnya. Termasuk dingin, dehidrasi, ruang hampa dan asam. Guinness Book of World Records memasukkan bakteri ini sebagai bakteri terkuat dunia.

7. Endoliths

Organisme ini mampu hidup di dalam batu atau tempat lain yang dianggap tak bisa menjadi tempat hidup, seperti di pori-pori yang ada di butir mineral. Spesies ini ditemukan tiga km di bawah permukaan Bumi dan banyak diantaranya hidup di tempat yang lebih dalam.

Air sangat sulit dicari di kedalaman ini namun beberapa hasil studi menyatakan, organisme ini makan dari besi, potasium, atau belerang disekitarnya. Selain itu, organisme ini juga dikenal tahan pada angin dan radiasi matahari.

8. Loriciferian

Makhluk yang baru saja ditemukan ini termasuk dalam spesies yang tak terdeskripsikan dari genus Spinoloricus. Makhluk ini memiliki organel khusus yang membuatnya bisa bertahan tanpa oksigen.

Image